Ikatan Alumnus MAN 2 Model Banjarmasin

Ikatan Alumnus MAN 2 Model Banjarmasin

Berisi seputar info tentang IKAMANDA

  • Home
  • Sekilas MAN 2 Model Banjarmasin
    • Perihal
  • Subscribe By RSS
You are here : Ikatan Alumnus MAN 2 Model Banjarmasin
Jul 30

Marhaban Ya Ramadhan

Published By ikamanda under Pengetahuan Islam    

 

Marhaban Ya Ramadhan

 

ramadhan-mubarakAlhamdulillah, segala puja dan puji kita panjatkan ke hadirat Allah swt yang telah memberikan kita kesehatan jasmani dan rohani sehngga kita bisa bertemu kembali dengan bulan yang penuh rahmat, berkah dan maghfirah ini.  Bulan yang suci, bulan yang diturunkannya Al-Qur’an yakni bulan Ramadhan,

Salam dan shalawat kita limpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad  saw yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam Islamiyah yang terang benderang seperti yang kita rasakan saat ini.

Marhaban Yaa Ramadhan, Marhaban Syahrus Syiam.

Selamat datang wahai Ramadhan, mungkin kata itulah yang sering kita dengar dan ucapkan dari kaum muslimin di seluruh dunia untuk menyambutnya dengan penuh kerinduan. Ramadhan adalah bulan dimana menjadi penting bagi umat Islam yang beriman untuk melaksanakan ibadah yang lebih dari – atau bulan-bulan biasanya. Karena di bulan Ramadhan ini Allah hanya menganjurkan bagi hamba-hambanya yang beriman saja untuk melaksanakan ibadah puasa. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Baqarah:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagiaman diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah 2:183)

Kalau kita melihat ayat tadi, betapa Allah sangat mengkhususkan ibadah puasa hanya bagi hamba-hamba pilihan-Nya yaitu hamba-Nya yang beriman. Mengapa Allah mengkhususkan puasa tersebut hanya kepada orang-orang yang beriman ?

Selain ini rahasia Allah Yang Maha Mengetahui karena hanya hamba-hamba-Nya yang berimanlah yang mampu dengan ikhlas melaksanakan ibadah puasa hingga akhir Ramadhan nanti.

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya telah datang bulan yang penuh dengan keberkahan, dimana telah difardukan atas kamu semua untuk berpuasa. Dibukakan pada bulan itu semua pintu sorga dan dikuncikan padanya semua pintu neraka dan dibelenggu pada bulan itu segala syaitan. Dalam bulan itu, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tercegah dari kebaikannya, maka sesungguhnya ia tak akan kebagian”. (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Baihaqi dari Abu Hurairah)”

Kalimat Marhaban Yaa Ramadhan bukan sekedar simbol atau kata-kata yang manis diucapkan dalam menyambut bulan ramadhan. Akan tetapi kalimat indah marhaban yaa ramadhan adalah kalimat yang keluar dari bibir serta perilaku beriman dari orang-orang yang rindu akan datangnya blan ramadhan.

Setelah sebelas bulan berlalu di tahun ini sejak Muharram dan semuanya sudah larut dalam kelampauan, kini tiba saatnya kita sambut ramadhan, satu bulan yang sarat dengan keberkahan.

Kehadiran bulan Ramadhan membawa keberkahan yang melimpah-ruah sebab sebulan dalam bulan Ramadhan itu dibuka lebar-lebar semua pintu surga bagi yang siap yang memasukinya pada saat ditentukan. Maka kalau kiasan itu di ungkapkan berarti Ramadhan menaruh kunci wasiat, yang akan diserahkan seseorang untuk disimpannya. Dan kelak pada waktunya, kunci wasiat tersebut dapat dipakainya untuk membuka pintu surga.

Sedangkan ungkapan dari terkuncinya pintu neraka selama bulan Ramadhan dan terbelenggunya semua syaitan pada bulan tersebut karena apabila seseorang menjalani dan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan menurut prosedur yang telah ditentukan dengan iman dan ihtisab serta keikhlasan, insya Allah dengan itu semua pintu neraka akan tertutup baginya untuk selama-lamanya dan syaitan tidak akan mampu untuk memperdayakannya.

Diantara sekian macam ibadah, seperti sholat, zakat, haji, maka puasa Ramadhan terpilih sebagai satu ibadah untuk menjadikan arena yang demikian luas ruangnya dan demikian lama waktunya secara kuntinu, kendatipun hanya sekali dalam setahun. Arena Ramadhan dijadikan Tuhan untuk umat Islam supaya berjuang demi memperolah kunci yang kita bicarakan tadi. Juga dengan ini kita mendapatkan senjata yang ampuh dalam menghadapi perang tanding dengan syaitan sepanjang hayat, sebagaimana Allah peringatkan kepada kita di dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu) karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Q.S. Fathir 35:6).”

Kalau ibdah sholat fardhu dilaksanakan setiap hari dan malam, namun setiap sholat kita tidak membutuhkan waktu yang panjang. Ada yang sholatnya dalam hitungan detik karena terburu-buru mau kerja, ada yang dalam hitungan menit karena sudah siap-siap diapelin kekasih. Begitu singkat waktunya dalam menjalani solat fardhu.

Haji sebagai satu arena ibdah yang termasuk berat, yang difardhukan sekurang-kurangnya sekali seumur hidup, namun jangka waktunya pun tidak begitu panjang dan lama. Kita bisa sebutkan inti ibadah itu tersimpul dari tanggal  bulan Dzulhijjah sampai tanggal 10 Dzulhijjah. Sedangkan waktu zakat malah lebih singkat lagi.

Adapun ibadah puasa, yang diartikan menahan makan dan minum, menahan hawa nafsu, menahan lidah dan hati serta anggota tubuh lainnya dari perbuatan-perbuatan dosa waktunya adalah sepanjang hari dari mulai terbit fajar menyingsing hingga matahari terbenam di waktu senja. Dan ini tidak kurang dari 13 jam setiap hari dalam batas waktu sebulan lamanya.

Maka dalam bentuk ibadah yang demikian manakala seorang muslim dapat melaluinya dengan baik selama satu bulan penuh, ikhlas karena Allah, maka ia akan menjadi seorang muslim yang benar dan kuat pribadi keislamannya. Oleh karena itu patutlah ia mendapatkan keuntungan yang seimbang dan wajar, sebagaimana yang dijanjikan Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah:

“Akan diampunkan baginya apa yang terdahulu dari dosanya”

Disamping itu Allah swt  juga berfirman dalam hadit Qudsi:

“Semua amal ibadah adalah untuk kamu, kecuali ibadah puasa Ramadhan, maka ibadah itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Pandangan Allah Swt sedemikian tinggi, melebihi yang lain terhadap puasa ini, adalah seperti yang dijelaskan hadits yang diriwayatkan Bukhari yang artinya:

“Sebab ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku.”

Seoran muslim demi kepatuhan dan ketundukannya kepada Allah Swt, dengan segala rela hati bersedia meninggalkan makan dan minum selam tidak kurang 13 jam setiap hari selama tidak kurang dari satu bulan.

Kemudian di bulan Ramadhan ada satu malam yang nilainya lebih tinggi dari seribu bulan. Malam itu disebut Lailatul Qadar. Maka apabila seorang muslim mendapat Lailatul Qadar serta mengisinya dengan amalan-amalan dan doa-doa, berarti ia telah menambah amalannya selama seribu bulan atau kurang lebih 83 tahun. Begitu banyak tambahan amal yang kita dapatkan dari Lailatul Qadar. Apalagi Lailatul Qadar didapat lebih dari sekali atau bahkan setiap bulan Ramadhan.

Memperhatikan dan menimbang arti dan kedudukan puasa Ramadhan sedemikan rupa, patutlah seorang muslim menanti kedatangannya sedemikan rupa sebab ia akan memperolah dan mendapatkan sekian banyak pahala dari Allah swt yang tidak didapatkan pada bulan-bulan yang lainnya.

Rasulullah bersabda:

“Kalaulah umatku mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadhan, pasti mereka akan senatiasa mengharapkan kiranya bulan-bulan itu menjadi Ramadhan semuanya…”

Sebab itu seorang muslim akan di puncak kegembiraannya menyambut setiap Ramadhan tiba. Sebab sebagai satu bulan yang erat dengan keberkahan, ia akan dapat berbuat banyak sebulanan suntuk ini demi mendapatkan hidayah dan maghfirah dari Allah swt. Seorang muslim yang beriman akan bangga menyambut kedatangan bulan Ramadhan, maka yang keluar dari mulutnya ketika Ramadhan datang “Marhaban Yaa Ramadhan, selamat datang wahai Ramadhan.” Dan seraya mempersiapkan diri tanpa absen untuk beramal dan beribadah selama bulan yang penuh berkah itu. Bulan Ramadhan akan dimanfaatkan seefisien mungkin dengan tidak mengabaikan setiap saat-saatnya selama bulan itu guna berbuat baik dan beramal sholeh.

Marilah kita sambut dengan hati yang terbuka penuh gembira dan mempersiapkan diri untuk berbuat amal kebaikan dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan ini. Dan insya Allah dengan niat baik dan tekad yang kuat kita akan dapat berbuat banyak demi mengumpulkan nilai-nila keimanan di hari esok. Mudah-mudahan kita semua diberi kesehatan dan umur yang panjang agar bisa menyambut bulan yang penuh barokah dan ampuan ini dengan segala bentuk ibadah dan amal-amal yang sholeh. Amien

 

2 Comments
Apr 04

MANDA : Aku, Kamu, Mimpi dan Metamorfosis Kita

Published By ikamanda under Tak Berkategori    

“Aku, kamu, kita semua adalah pemimpi,…dulu dan sekarang pun kita sedang bermimpi,..entah besok, mungkin saja kita dibangunkan dalam keabadian”. Sadarilah, takkan seorang pun yang bisa menghindari penderitaan dan kekalahan dalam hidup ini, hanya saja bagiku lebih baik kita kalah dalam pertempuran memperjuangkan mimpi kita ketimbang harus dikalahk…an tanpa kita ketahui apa yang harus kita perjuangkan. Nafs dan hulubalangnya takkan pernah membiarkan begitu saja pikiran kita menang dengan mudahnya, nafs akan terus berusaha menguasai medan pertempuran. Tahukah kamu medan pertempuran itu? Ialah perasaan dan kemauan kita…inilah mesin bagi mimpi-mimpi kita, tapi aku yakin kita bisa mempertahankan mimpi-mimpi kita tuk kita bingkai pada kemungkinan-kemungkinan hari esok. Dan kita pasti menjadi bagian dari kemungkinan itu.

Sahabatku,…kuharap engkau mendengarku,…perhatikan dan tanyakan pada hati kecilmu: Dimanakah aku dan kamu bersama memulai mimpi-mimpi itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah tempat pertama engkau mengenalku; ya,….MAN 2 Banjarmasin,…di situ lah awal dari mimpi-mimpi itu. Aku merasa tidak ada yang menjadikan aku istimewa di tempat itu, tapi kita,…kita lah yang istimewa di sana, karena di sana dan pada saat itu lah keteladanan, persahabatan, nilai kebaikan dan nilai keburukan telah kita rasakan bersama dan terasa begitu berarti. Di sana lah kepribadian kita mulai bermetamorfosis tuk menjadi insan sejati,… Aku teringat; terkadang aku merasakan engkau adalah asing bagiku, tapi aku pun sadar engkau juga lah yang menjadi inspirasiku. Ahh, sudah lah… Adalah hal yang wajar pikirku jika salah satu antara kita telah berubah pada saat itu, karena fase ini sangat sulit untuk dilalui….

Sahabatku, kita telah banyak melewatkan hari-hari bersama di sana,…sehingga sulit bagiku untuk tidak mengingatnya,…aku teringat akan suatu peristiwa atau kekonyolan yang telah kita lalui, entah engkau masih mengingatnya ataukah hiruk pikuk kesibukan dunia telah membuatmu mudah melupakannya? Yang jelas, aku ingin kita sama-sama belajar berbenah dari semua kisah kita,… Yakni awal dari metamorfosis ini…

Hal yang masih menarik dari kisah kita adalah…ha…ha… Aku masih saja tersenyum lebar jika mengingatnya; pertunjukan yang menyebabkan emosi kita naik-turun, tapi manakah yang menjadi favorit mu?…Ceramah Outdoor ala Fahmi Arif (Fisika vs ciri wanita yang enak untuk…wuaha3), Info IPTEK plus penataran dan pencerahan jiwa ala Abank(pembuat tulisan terkecil di dunia dan penyedia layar tancap, nontong Malena..ahaha) plus, “Ngeras’h” (The Tarik Jabrix versi MANDA yakni Kelompok yang terbentuk karena terinspirasi oleh “Debra”), konser musik “Inbox” ala Mail dan Ambon, Reportase Investigasi ala Fitra (rekamannya sekarang mana ncek?), cerita roman “Qais-Laila” ala Hafizh (sorry fizh! Ku tahu bukan itu lagi ceritanya), film “Hulk” ala Syukri (jangan pernah membuatnya marah!!ha…ha…), acara masak memasak ala he..he..(membuat bu Naimah…grrrr…) atau… “Las Vegas in My Class” (masih segar dalam ingatan kita; apa yang diucapkan Syukri ketika Pa Basuki berkunjung???… Ya, benar sekali… “RATUS” buat kamu!).

Ini lah sebagian dari begitu banyaknya pertunjukan di awal metamorfose kita. Akan kah semua ini terlupa begitu saja? Mungkinkah seekor kupu-kupu kan lupa saat-saat ia menjadi kepompong? Cukuplah diri kita sendiri yang menjawabnya…

sahabatku,…setiap pemberhentian adalah awal dari perjalanan berikutnya dan setiap pintu keluar adalah pintu masuk ke ruangan yang lain. Tugas kita adalah menghubungkan awal dari sebuah perjalanan, ke akhir dari perjalanan itu, dengan kualitas perjalanan yang sebaik-baiknya agar akhir perjalanan itu menjadi awal bagi perjalanan berikutnya yang lebih mendekatkan kita kepada kecemerlangan dan kemuliaan hidup yang kita tuju. (Ini juga yang pernah diucapkan oleh Mario Teguh)

Sahabat,…sekarang takkan ada lagi pertunjukan-pertunjukan seperti saat kita bersama itu, namun mimpi akan terus berlangsung, masuk dari suatu fase ke fase yang lain, dan tiap fase ada pertunjukan masing-masing dari kita, hanya saja kita tidak tahu siapa diantara kita yang menyudahi kisahnya lebih dulu, entah itu adalah aku ataukah kamu…

Tak ada yang bisa mengukur dan menggambarkan kisah kita, selain diri kita sendiri. Sayyidina Ali pun pernah mengungkapkan bahwa “orang yang paling jauh perjalanannya (yaitu) orang yang mencari teman yang dapat merelakan (dalam segala hal) baginya”. Aku harap inilah “kita”. Amiin…

Terakhir, tanamkanlah dalam jiwa kita “Dimostrazione” yakni komitmen untuk menguji pengetahuan melalui pengalaman, keuletan, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan. Salam Alumnus MANDA 2004!

by Andi Rahman (Alumnus 2004 Kelas III IPA )

4 Comments
Apr 04

Kebangkitan Dunia Pendidikan dengan Islam

Published By ikamanda under Tak Berkategori    

by zonapikir

anak_muslimTidak bisa dipungkiri, bahwa kondisi pendidikan di negeri kita saat ini babak belur. Dari sisi SDM misalnya, yang dihasilkan oleh pendidikan kita jauh dari harapan. Saat ini, hampir di seluruh kota-kota besar; kenakalan remaja, seks bebas, narkoba, dugem, dan perilaku rusak lainnya seolah-olah menjadi ‘teman karib’ para pelajar sekarang. Kepribadian mereka kacau; tidak tersentuh sama sekali nilai-nilai Islam. Memang, ada pelajar-pelajar yang berprestasi dan berkepribadian tangguh, namun jumlah mereka tidak sebanyak pelajar yang ‘bermasalah’.

Di tingkat lulusan sarjana, saat ini jumlah penganggurannya sudah diambang angka yang mengkhawatirkan. Jika ini terjadi maka problem sosial baru akan bermunculan. Jika ditanya, apa penyebab utama dari carut-marutnya pendidikan di negeri ini, maka penyebabnya bersifat sistemik, yakni karena diterapkannya sistem pendidikan sekular, dan dicampakkannya sistem pendidikan Islam.

Problem Pendidikan

Sejatinya munculnya kenakalan remaja atau pelajar tidak selamanya dan sepenuhnya dibebankan dan menyalahkan pelajar semata. Sebab permasalahan ini sangat kompleks, sedangkan kenakalan hanya merupakan sebuah output, jadi yang seharusnya ikut dipersoalkan adalah input dan segala yang memproses input itu menjadi output.

Diakui atau tidak, di tengah kehidupan yang kapitalistik apapun serba diukur dengan materi (baca: uang), tak pelak juga dengan pendidikan, bagaimana kemudian seorang tenaga pengajar (guru atau dosen) memikirkan kesejahteraannya, karena kalau hanya mengandalkan gaji, tidak cukup untuk kebutuhan duniawi yang sudah diguyur materialisme dan serba mahal.

Materi pelajaran atau kurikulum yang merupakan software paling esensial di dunia pendidikan, menempatkan porsi ajaran agama yang begitu minim ketimbang ilmu sains, bahasa, dan ilmu terapan lainnya. Pelajaran agama sebagai nidzomul hayah (aturan hidup), hanya bersifat hafalan dan ritualitas yang terulang-ulang tapi tidak membekas. Pelajaran agama hanya mendapat jatah 2 SKS seminggu inilah akibat mengapa kenakalan semakin marak, sedangkan sopan santun dan intelektualitas yang mumpuni semakin langka.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pengajar, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kalau kita cermati para guru di sekolah mengesankan hanya bersifat trasnfer ilmu semata dan cuek terhadap perkembangan perilaku dan kepribadian pelajar yang mulai mencari identitas dan jati dirinya yang apabila tidak diarahkan secara dini akan ikut memperpanjang potret buram dunia pendidikan.

Para orang tua juga sangat berkewajiban memerankan dirinya dalam dunia pendidikan. Al-Qur’an telah memberikan teladan yang baik dari seorang figur orang tua bernama Luqmanul Hakim. Bahkan Al-Qur’an juga memperingatkan kepada para orang tua kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang anaknya.

Bercermin pada Pendidikan Islam

Masalah menutuntu ilmu dalam perspektif Islam termasuk masalah yang asasi dan wajib. Sebagaimana Rasulullah Saw, bersabda yang artinya:  “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi dari Abbas RA, juga Attraboni dan Al Khatib dari Al Husain bin Ali/ lihat, al-Fathul Khabir, jilid II. h, 213)

Sebagai kompensasi wajibnya menuntut ilmu, maka Islam mewajibkan kemudahaan untuk mendapatkan ilmu itu. Yaitu negara harus mampu menekan seminim mungkin biaya pendidikan bagi masyarakat, bahkan kalau bisa dengan cuma-cuma. Semua warga negara berhak mendapatkan pelayanan pendidikan dari negara sebaik-baiknya. Negara tidak boleh menjadikan pendidikan sebagai ladang bisnis mencari keuntungan.

Sedemikian urgentnya ilmu pengetahuan dalam Islam, maka kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam diantaranya, meliputi:

1. Asas Pendidikan

Dalam pandangan Islam, kurikulum pendidikan harus berdasarkan aqidah Islam. Apabila aqidah Islam sudah menjadi asas yang mendasar bagi kehidupan seorang muslim, asas bagi negaranya, asas bagi hubungan masyarakat pada umumnya, maka seluruh pengetahuan yang diterima seorang muslim harus berdasarkan aqidah Islam pula. Misalnya, ketika di masa Rasulullah Saw, terjadi gerhana matahari, bertepatan dengan wafatnya putra beliau, orang-orang kemudian berkata, gerhana matahari itu terjadi karena meninggalnya Ibrahim, maka Rasulullah segera menjelaskan kepada mereka dengan sabdanya : “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian dan kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah” (HR Bukhari dan Nasai dari Abu Bakrah/lihat al-Fathul Khabir, jilid I hal. 154)

Dengan jelas hadits tersebut menggambarkan bahwa Rasulullah telah menjadikan aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan umum dalam menjelaskan gerhana matahari dan bulan.

Aqidah Islam sebagai dasar kurikulum bukan berarti seluruh pengetahuan harus bersumber dari aqidah Islam. Islam tidak memerintahkan demikian, lagipula itu bertentangan dengan kenyataan, karena tidak semua ilmu bersumber dari aqidah Islam. Akan tetapi setiap pengetahuan yang berkaitan dengan keimanan dan hukum harus bersumber dan bersandar kepada aqidah Islam. Oleh karena itu mempelajari segala macam ilmu pengetahuan bukan merupakan penghalang, karena dalil-dalil yang menganjurkan menuntut ilmu pengetahuan bersifat ‘aam (umum). Rasulullah bersabda : “Carilah ilmu sekalipun ke negeri Cina” (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi dari Anas RA/lihat al-Fathul Kabir, jilid I, h, 193)

Menurut Baihaqi (lihat Faidhul Qodir, jilid I, h 542) matan hadits itu masyhur, sedang sanadnya lemah. Lafadz “al-ilma” dalam hadits tersebut bersifat ‘aam, mencakup jenis ilmu pengetahuan, baik itu terkait dengan keimanan, hukum, maupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teknologi, industri, dan sebagainya.

2. Tujuan Pendidikan

Tujuan kurikulum dan pendidikan Islam adalah membekali akal, dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat, baik itu mengenai aqidah maupun hukum. Islam telah memberikan dorongan agar manusia menutut ilmu dan membekalinya dengan pengetahuan. Firma-Nya:

“Katakanlah (hai Muhammad), apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dan orang-orang yang tidak berpengetahuan Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran ” (TQS.Az-Zumar ayat 9).

Islam yang suci memiliki tujuan untuk menghindarkan akal manusia dari jurang kesesatan dan penyelewengan yang tidak jelas. Islam menjadikan aqidah Islam sebagai dasar bagi seorang muslim untuk memastikan suatu hukum atas segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Seorang muslim harus meletakkan segala tingkah laku dan perbuatannya berdasarkan ajaran Rasulullah SAW, yakni aqidah Islam. Bukan hanya perbuatan saja, bahkan termasuk keinginan dan kecenderungan hatinya pun harus sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW, sabda beliau : “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu, kecuali apabila aku ia lebih cintai dari pada keluarganya, hartanya dan manusia seluruhnya” (HR. Muslim/lihat Shahih Muslim, hadits no. 59)

Dalam hadits tersebut mendiskripsikan bahwa keinginan dan kencederungan apapun dari seorang muslim harus berdasarkan atas apa yang datang dari Rasulullah SAW, yaitu aqidah Islam.

Mengingat segala bentuk pengetahuan dapat membentuk pemikiran seorang muslim yang mempengaruhi terhadap pemberian keputusan mengenai segala sesuatu dan pembentukan jiwa seorang muslim yang berkehendak terhadap sesuatu tersebut, maka sudah selayaknya pengetahuan-pengetahuan harus didasarkan pada aqidah Islam. Hal tersebutlah yang menjadi dasar mengapa Islam mampu menelorkan ulama semacam Imam Syafii yang telah hafal Al-Qur’an semenjak umur 9 tahun dan menjadi Ulama ahli fiqih yang kitab-kitabnya menjadi rujukan kaum muslimin saat ini.

Dan melalui dua pandangan itulah, yang menghantarkan Islam menemui kejayaannya dan sekaligus menjadi pusat sains dan teknologi dunia saat itu. Dunia kemudian mengenal Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Jabar dan lain sebagainya. Orang-orang dari berbagai penjuru negeri termasuk Barat berdatangan ke pusat-pusat studi dan kajian berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi. Di saat Barat mengalami apa yang disebut dark age, justru umat Islam maju dan berjaya.

Sistem pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang diselenggarakan pada saat Islam memiliki negara sebagaimana nash-nash syara’ dan fakta sejarah menunjukkan demikian. Bukan karena negeri tersebut dihuni mayoritas muslim, bahkan pada saat itu masyarakatnya plural dan heteregon, tapi sistem pendidikan Islam dapat diterapkan dengan baik dan mensejahterakan. Karena memang Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

http://zonapikir.wordpress.com/2009/05/01/kebangkitan-dunia-pendidikan-dengan-islam/

No Comments
Feb 15

Supaya Tidak Sembarang Berbicara Masalah Hukum Agama; Anda Tidak Akan Mencapai Derajat Mujtahid Maka Anda Harus Menjadi Muqallid

Published By ikamanda under Tak Berkategori    

Ijtihad adalah mengeluarkan (menggali) hukum-hukum yang tidak terdapat nash (teks) yang jelas. Maka seorang mujtahid (orang yang melakukan ijtihad) ialah orang yang memiliki keahlian untuk itu, ia seorang yang hafal ayat-ayat ahkam, hadits-hadits ahkam beserta mengetahui sanad-sanad dan keadaan para perawinya, mengetahui nasikh dan mansukh, ‘am dan khash, muthlaq dan muqayyad serta menguasai betul bahasa Arab dengan sekira hafal pemaknaan-pemaknaan setiap nash sesuai dengan bahasa al Qur’an, mengetahui apa yang telah disepakati oleh para ahli ijtihad dan apa yang diperselisihkan oleh mereka, karena jika tidak mengetahui hal ini maka dimungkinkan ia menyalahi ijma\\\’ (konsensus para ulama) para ulama sebelumnya.

Lebih dari syarat-syarat di atas, masih ada sebuah syarat besar lagi yang harus terpenuhi dalam berijtihad yaitu kekuatan pemahaman dan nalar. Kemudian juga disyaratkan memiliki sifat ‘adalah; yaitu selamat dari dosa-dosa besar dan tidak membiasakan berbuat dosa-dosa kecil yang bila diperkirakan secara hitungan jumlah dosa kecilnya tersebut melebihi jumlah perbuatan baiknya.

Sedangkan Muqallid (orang yang melakukan taqlid; mengikuti pendapat para mujtahid) adalah orang yang belum sampai kepada derajat tersebut di atas.

Dalil bahwa orang Islam terbagi kepada dua tingkatan ini adalah hadits Nabi:

\\\” نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها فأداها كما سمعها ، فربّ حامل مبلغ لا فقه عنده \\\” (رواه الترمذي وابن حبان)

Maknanya: “Allah memberikan kemuliaan kepada seseorang yang mendengar perkataanKu, kemudian ia menjaganya dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, betapa banyak orang yang menyampaikan tapi tidak memiliki pemahaman”. (H.R. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Bukti terdapat pada lafazh: فربّ مبلغ لا فقه عنده \\\”\\\” “Betapa banyak orang yang menyampaikan tapi tidak memiliki pemahaman”. Dalam riwayat lain: \\\”وربّ مبلغ أوعى من سامع\\\” “Betapa banyak orang yang mendengar (disampaikan kepadanya hadits) lebih mengerti dari yang menyampaikan”.

Bagian dari redaksi hadits tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa ada di antara yang mendengar hadits dari Rasulullah memiliki kapasitas hanya meriwayatkan saja, sementara pemahamannya terhadap kandungan hadits tersebut mungkin kurang, bisa jadi pemahaman orang yang mendengar/mengambil hadits tersebut darinya lebih luas dan lebih komprehensif. Orang yang kedua ini dengan kekuatan nalar dan pemahamannya memiliki kemampuan untuk menggali dan mengeluarkan hukum-hukum dan masalah-masalah (dinamakan Istinbath) yang terkandung di dalam hadits tersebut. Dari sini diketahui bahwa bisa saja ada sebagian sahabat Nabi di mana sebagian murid mereka mungkin lebih paham terhadap kandungan hadits-hadits Nabi lebih dari pada mereka sendiri. Pada redaksi hadits lain tentang ini:

\\\” فربّ حامل فقه إلى من هو أفقه منه \\\”

“Betapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih paham darinya”. (Dua riwayat ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Orang yang memiliki kapasitas inilah yang disebut mujtahid yang dimaksud oleh hadits Nabi:

\\\” إذا اجـتهد الحاكم فأصاب فله أجران وإذا اجـتهد فأخطأ فله أجر \\\” (رواه البخاري)

“Apabila seorang Penguasa berijtihad dan benar maka ia mendapatkan dua pahala dan bila salah maka ia mendapatkan satu pahala”. (H.R. al Bukhari)

Dalam hadits ini disebutkan Penguasa (الحاكم) secara khusus karena ia lebih membutuhkan kepada aktivitas ijtihad dari pada lainnya. Di kalangan para ulama salaf, terdapat para mujtahid yang sekaligus penguasa, seperti para khalifah yang enam; Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, al Hasan ibn ‘Ali, ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, Syuraih al Qadli dan lainnya.

Para ulama hadits yang menulis karya-karya dalam Mushthalah al Hadits menyebutkan bahwa ahli fatwa dari kalangan sahabat hanya kurang dari sepuluh, yaitu sekitar enam menurut suatu pendapat. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ada sekitar dua ratus sahabat yang mencapati tingkatan Mujtahid dan ini pendapat yang lebih sahih. Jika keadaan para sahabat saja demikian adanya maka bagaimana mungkin setiap orang muslim yang bisa membaca al Qur’an dan menelaah beberapa kitab berani berkata: “Mereka (para mujtahid) adalah manusia dan kita juga manusia, tidak seharusnya kita taqlid kepada mereka”. Padahal telah terbukti dengan data yang valid bahwa kebanyakan ulama salaf bukan mujtahid, mereka ikut (taqlid) kepada ahli ijtihad yang ada di kalangan mereka. Dalam shahih al Bukhari diriwayatkan bahwa seorang pekerja sewaan telah berbuat zina dengan isteri majikannya. Lalu ayah pekerja tersebut bertanya tentang hukuman atas anaknya, ada yang mengatakan: “Hukuman atas anakmu adalah membayar seratus ekor kambing dan (memerdekakan) seorang budak perempuan”. Kemudian sang ayah kembali bertanya kepada ahli ilmu, jawab mereka: “Hukuman atas anakmu dicambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun”. Akhirnya ia datang kepada Rasulullah shallallahu \\\’alayhi wasallam bersama suami perempuan tadi dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya anakkku ini bekerja kepada orang ini, lalu ia berbuat zina dengan isterinya. Ada yang berkata kepadaku hukuman atas anakku adalah dirajam, lalu aku menebus hukuman rajam itu dengan membayar seratus ekor kambing dan (memerdekakan) seorang budak perempuan. Lalu aku bertanya kepada para ahli ilmu dan mereka menjawab hukuman anakmu adalah dicambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun ?”. Rasulullah berkata: “Aku pasti akan memberi keputusan hukum terhadap kalian berdua dengan Kitabullah, al-walidah (budak perempuan) dan kambing tersebut dikembalikan kepadamu dan hukuman atas anakmu adalah dicambuk seratus kali dan diasingkan (dari kampungnya sejauh jarak Qashar –sekitar 78 Km) setahun”.

Laki-laki tersebut sekalipun seorang sahabat tapi ia bertanya kepada para sahabat lainnya dan jawaban mereka salah lalu ia bertanya kepada para ulama di kalangan mereka hingga kemudian Rasulullah memberikan fatwa yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para ulama mereka. Dalam kejadian ini Rasulullah memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebagian sahabat sekalipun mereka mendengar langsung hadits dari Nabi namun tidak semuanya memahaminya, artinya tidak semua sahabat memiliki kemampuan untuk mengambil hukum dari hadits Nabi. Mereka ini hanya berperan meriwayatkan hadits kepada lainnya sekalipun mereka memahami betul bahasa Arab yang fasih. Dengan demikian sangatlah aneh orang-orang bodoh yang berani mengatakan: “Mereka adalah manusia dan kita juga manusia…”. Mereka yang dimaksud adalah para ulama mujtahid seperti para imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi\\\’i dan Ahmad ibn Hanbal).

Senada dengan hadits di atas, hadits yang diriwayatkan Abu Dawud tentang seorang laki-laki yang terluka di kepalanya. Pada suatu malam yang dingin ia junub, setelah ia bertanya tentang hukumnya kepada orang-orang yang bersamanya, mereka menjawab: “Mandilah !”. Kemudian ia mandi dan meninggal (karena kedinginan). Ketika Rasulullah dikabari tentang hal ini, beliau berkata: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membalas perbuatan mereka, Tidakkah mereka bertanya kalau memang tidak tahu, karena obat ketidaktahuan adalah bertanya !”. Jadi obat kebodohan adalah bertanya, bertanya kepada ahli ilmu. Lalu Rasulullah berkata : \\\” Sesungguhnya cukup bagi orang tersebut bertayammum, dan membalut lukanya dengan kain lalu mengusap kain tersebut dan membasuh (mandi) sisa badannya\\\”. (H.R. Abu Dawud dan lainnya). Dari kasus ini diketahui bahwa seandainya ijtihad diperbolehkan bagi setiap orang Islam untuk melakukannya, tentunya Rasulullah tidak akan mencela mereka yang memberi fatwa kepada orang junub tersebut padahal mereka bukan ahli untuk berfatwa. Kemudian di antara tugas khusus seorang mujtahid adalah melakukan qiyas, yaitu mengambil hukum bagi sesuatu yang tidak ada nashnya dengan sesuatu yang memiliki nash karena ada kesamaan dan keserupaan antara keduanya.

Maka berhati-hati dan waspadalah terhadap mereka yang menganjurkan para pengikutnya untuk berijtihad, padahal mereka sendiri, juga para pengikutnya sangat jauh dari tingkatan ijtihad. Mereka dan para pengikutnya adalah para pengacau dan perusak agama. Termasuk kategori ini adalah orang-orang yang di majelis-majelis mereka biasa membagikan lembaran-lembaran tafsiran suatu ayat atau hadits, padahal mereka tidak pernah belajar ilmu agama secara langsung kepada para ulama. Orang-orang semacam ini adalah golongan yang menyempal dan menyalahi para ulama Ushul Fiqh. Karena para ulama ushul berkata: “Qiyas adalah pekerjaan seorang mujtahid”. Di samping itu mereka juga menyalahi para ulama ahli hadits.

\"\\"\\"\"
http://www.facebook.com/notes.php?id=351534640896&s=40#!/note.php?note_id=153895107960740
No Comments
Okt 05

Seminar Sehari Karya Tulis Ilmiah

Published By ikamanda under Tak Berkategori    

seminar

No Comments
Feb 01

Seminar Motivasi Kepenulisan

Published By ikamanda under Tak Berkategori    

Seminar Motivasi Kepenulisan

Pendahuluan

Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) MAN 2 Model Banjarmasin ke-10 tanggal 20 Pebruari 2009, MAN 2 Model Banjarmasin mencoba menggali kreatifitas guru yang masih terpendam. Banyak potensi yang belum tersalurkan khususnya bidang tulis menulis dan jurnalistik.

Kegiatan tulis menulis dan mempublikasikannya pada suatu media masa merupakan bagian pengembangan profesionalisme dan kompetensi yang perlu senantiasa dikembangkan. Sebab keterampilan menulis dan menuangkan suatu gagasan dapat dipelajari dan dilatih agar menjadi lebih terampil. Penuangan hasil karya guru dapat dimuat pada majalah dinding (mading), buletin guru dan surat kabar, bahkan bisa diterbitkan dalam bentuk buku.

Disadari atau tidak keterampilan menulis di kalangan guru saat ini terkesan kurang diminati. Hal ini setidaknya dapat kita lihat dari kurangnya perkembangan mading atau buletin sekolah. Di sisi lain, ada anggapan dari kalangan guru, menulis merupakan “momok” yang menakutkan. Indikatornya dapat dilihat dari adanya stagnasi kepangkatan di kalangan pegawai fungsional yang bergolongan IV.a.

Menggugah semangat para guru untuk menulis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Walaupun sebenarnya profesi guru tidak lepas dari aktivitas tulis menulis. Mulai dari menyiapkan Silabus, Program Tahunan, Program Semester atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sampai evaluasi belajar siswa, semuanya tak lepas dari tulis menulis.

Salah satu faktor yang membuat gairah guru untuk menulis susah berkembang, adanya anggapan yang keliru di kalangan guru tentang aktivitas tulis menulis ini.

Pertama, anggapan bahwa menulis itu sulit dan membutuhkan bakat dan keterampilan khusus.

Kedua, guru tidak punya banyak waktu untuk menulis. Sebagai pendidik dan pengajar, tentunya cukup sulit bagi guru meluangkan waktunya untuk menulis. Namun kalau mau jujur di sinilah sebenarnya guru menemukan banyak ide, tantangan dan peluang.

Ketiga, tidak adanya wadah yang representatif. Salah satu faktor penghambat/ penyebab kurang bergairahnya guru menulis adalah tidak adanya wadah yang representatif dari sekolah atau pihak-pihak terkait, walaupun hanya berbentuk sebuah mading/ buletin sekolah.

Selain itu juga karena kurang adanya sentuhan spirit/ rangsangan atau penghargaan misal, berupa kredit poin untuk menunjang karir guru. Atau ada forum tertentu dari lembaga yang kompeten yang bisa menampung dan mewadahi ide-ide guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kalimantan Selatan.

Menyadari akan permasalahan di atas, maka MAN 2 Model Banjarmasin terpanggil untuk melaksanakan seminar motivasi menulis bagi para guru se-Kalimantan Selatan.

Tema

“ Dengan Menulis Kita Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Guru“.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan :

1.

Menumbuhkan motivasi dan semangat menulis dikalangan guru/ pendidik.
2.

Meningkatkan pengetahuan guru di bidang kepenulisan/ jurnalistik
3.

4.

Menumbuhkembangkan kreatifitas guru dalam mengungkapkan ide-ide cemerlang.
5.

Meningkatkan wawasan kepenulisan di kalangan guru se-Kalimantan Selatan.

Target

1.

Terselenggaranya seluruh kegiatan dengan memberikan manfaat sesuai perencanaan.
2.

Terciptanya kesadaran dan motivasi para guru/ pendidik untuk menulis sebagai implementasi pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru.
3.

Terwujudnya budaya dan iklim ilmiah di kalangan guru

Waktu dan Tempat Kegiatan

Jenis kegiatan yang dilaksanakan adalah;

1.

SEMINAR MOTIVASI KEPENULISAN

Hari/Tangal : Sabtu/ 14 Pebruari 2009

Waktu : 08.00 s/d 13.00 WIB

Tempat : Aula MAN 2 Model Banjarmasin

Jl. Pramuka RT.20 No. 28 Banjarmasin

2.

LAUNCHING BUKU

Judul Buku : JAZIRAH CINTA

Penulis : Randu Alamsyah

Endorsement : Zulfaisal Putera (Guru SMAN 2 Banjarmasin)

Materi dan Nara sumber

Seminar menampilkan sejumlah nara sumber yang membahas topik yang ada, kemudian ditambah dengan tanggapan/ pertanyaan dari peserta.

No

Hari/Tgl

Jam

Kegiatan

Ket.

1

Sabtu,

14 Pebruari 2009

07.30 – 08.00

Cek in

Panitia

08.00 – 08. 30

Pembukaan

Kabid Mapenda Depag

08.30 – 10.00

Membangkitkan Semangat Guru untuk Menulis

Ersis Warmansyah Abbas

(Motivator/ Dosen FKIP Unlam)

10.00– 11.00

Kiat dan Teknik Menulis di Media Massa

Aliansyah Jumbawuya (Jurnalis Banjarmasin Post/ Serambi Ummah)

11.00 – 12.00

Menengok Dapur Kreativitas Penulis Banua

Sandi Firly

(Blogger/ Redaktur Radar Banjarmasin)

Farah Hidayati (Novelis Banua)

12.00 – 12.30

Launching Novel “Jazirah Cinta”

(Endorsement Tokoh)

Randu Alamsyah (Penulis)

12.30 – 13.00

Penutup

Kepala MAN 2 Bjm

Peserta Kegiatan

1.

Peserta : Guru, staf pengajar, mahasiswa dan masyarakat umum

(peserta dibatasi maksimal 150 orang)

2.

Kontribusi : Rp. 50.000,-
3.

Fasilitas : Makalah, Piagam, Snack dan Makan siang
4.

Waktu Pendaftaran : 27 Januari s/d 12 Pebruari 2009
5.

Tempat : MAN 2 Model Banjarmasin

Jl. Pramuka, RT.20 No. 28 Telp. (0511) 3258164

6.

Contact Person : Taufik (0815 21515513)

Basuki (0813 49661477)

1 Comments
Jul 11

Refleksi haul ke-4 Guru Sekumpul

Published By ikamanda under Tak Berkategori    

 http://taufik79.wordpress.com)

Benarkah, Martapura Krisis Ulama? (Refleksi Haul ke-4 Guru Sekumpul)

June 26, 2009 at 7:30 am · Filed under Islami

Abah GURU2

Sosok ulama waratsatul ‘anbiya satu persatu meninggalkan dunia fana ini, sementara generasi penerusnya (dalam kualitas sama) sulit didapat sekarang, bahkan hampir terbilang langka. Kepergian ulama meninggalkan dunia ini adalah salah satu tanda-tanda akhir zaman. Maka semakin “gelaplah dunia” ini karena ketiadaan ulama yang selama ini sebagai ‘pelita’ dunia.

Empat tahun lalu, Rabu 10 Agustus 2005, bertepatan 5 Rajab 1424 H, seorang ulama besar yang punya kualitas sosok warasatul ‘ambiya (pewaris nabi) telah dipanggil Sang Khaliq, dia Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab kita panggil Guru Sekumpul, seorang ulama besar terkenal di Kalimantan.

Martapura berduka pada saat itu, betapa tidak seorang putra terbaiknya yang selama ini menjadi panutan, rujukan bahkan “idola” umat telah berpulang ke rahmatullah, menghadap Ilahi Rabbi. Di tengah krisis dan tanda tanya siapa gerangan “pewaris” Guru Sekumpul, rasa prihatin dan duka tak dapat disembunyikan, bahkan hingga kini.

Demikian juga kira-kira gambaran situasi keresahan umat Islam di Kalsel khususnya di Martapura sekarang ini, dilihat dari kacamata keprihatinan akan semakin langkanya sosok ulama panutan warga banua.

Persoalan mendasar yang mungkin inheren dengan krisis ulama dewasa ini, karena beban dan tugas mereka yang begitu berat dalam mengayomi umat untuk tidak terpecah-belah. Pada dasarnya ulama memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, hal ini karena ketokohannya di bidang ilmu agama dan merupakan panutan masyarakat.

Sebagai panutan, mereka mempunyai kharisma. Sampai sekarang, masyarakat umumnya masih menerima dan menghayati pengertian ulama sebagai ketokohan yang khas. Masyarakat belum menerima seorang ekonom disebut ulama, atau seorang dokter dikatakan ulama kendati mereka paham ilmu keagamaan dan mampu membaca dan menelaah kitab kuning, misalnya. Fanatisme kepada ulama disebabkan kefanatikan orang terhadap pengetahuan agama sang ulama, penghayatan dan sekaligus pengamalannya terhadap nilai-nilai agama tersebut. Karena itu, tidak semua yang mengerti Islam dapat sekaligus disebut ulama.

Ketaatan atau kesetiaan kepada ulama, bukan sesuatu yang direncanakan dan dibuat-buat, tapi ia tumbuh dengan sendirinya. Karenanya, bila seorang yang tahu sepotong dua potong ayat dan hadits kemudian dikhutbahkan atau diceramahkan, orang tersebut belum masuk ”kelas ulama”. Karena muballigh atau da’i bukan ulama, tapi setiap ulama sudah pasti muballigh atau da’i. Dalam Islam tidak berlaku sistem kerahiban. Lalu siapa yang bertanggung jawab terhadap agama (Islam)? Karena tidak berlakunya sistem rahbaniat itu. Sudah pasti setiap individu muslim berhak menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, dalam batas kemampuan dan pengetahuannya tentang agama itu.

Akan tetapi setiap yang ber-amar ma’ruf dan nahi munkar tersebut belum tentu ulama, karena ulama seperti diurai di atas, juga memiliki ciri khas yang lain, yaitu “kaum sarungan” dengan syal melekat pada pundaknya, serta peci putih atau sorban yang tak pernah lepas dari kepalanya. Di samping ciri khas lainnya adalah, murah senyum, ramah, bersahaja, satu dua kata yang dikeluarkannya mengandung doa. Materi atau honor mengajar bukan persoalan bagi mereka. Diberi atau tidak, banyak atau sedikit ”amplop” yang diberikan juga bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Bagi sang ulama menyampaikan dan mengajar sebagai upaya pencerahan umat adalah sebagai bentuk tanggung jawab.

Teringat akan hal inilah kemudian penulis meneteskan air mata ketika melayat ke kubah makam Guru Sekumpul (dengan doa kiranya Allah melapangkan kuburnya). Semasa hidup, beliau ikhlas mengajar ummat di komplek Langgar Ar Raudhah, Sekumpul. Ceramah agama yang beliau sampaikan mampu menyejukkan kalbu, tak hanya bagi mereka yang tergolong dewasa maupun orang tua, tapi juga bagi kalangan kawula muda. Sekali kita mendengar petuah dan pesan-pesan agama yang penuh berisi dan disampaikan secara persuasif itu, membuat hati siapa pun jadi rindu untuk datang lagi pada kegiatan pengajian beliau. Kini ulama kharismatik itu telah tiada, tapi sosok dan figur kepribadian beliau tak akan pernah hilang dari ingatan kita.

Ulama Beralih Profesi

Dalam telaah sejarah bangsa kita, pada kurun waktu terakhir, banyak ulama kita yang “beralih profesi”. Mereka berbondong-bondong meninggalkan pesantren untuk menjadi anggota dewan. Betapapun hal ini bisa dinilai sebagai memisahkan ikan dari air, kenyataannya kebanyakan ulama kita tidak bisa berperan dengan baik dalam lembaga perwakilan itu. Karena lapangan politik pada dasarnya bukan dunia mereka, bahkan tidak sedikit kemudian ulama yang terseret ke dalam pusaran arus yang demikian kuat, sehingga keulamaan mereka lenyap. Sementara itu pesantren dan ummat menjadi lemah justru setelah ditinggalkan oleh ruh dan jiwa para ulama.

Dulu, Martapura sangat dikagumi, dicintai dan digandrungi, tidak hanya oleh bubuhan pelajar, mahasiswa dan kaum mudanya yang militan, tapi juga muslimat (kaum ibu) demikian antusias setiap kali diucapkan kata Martapura. Hal ini disebabkan para ulamanya yang kharismatik yang memberikan pencerahan keagamaan kepada masyarakat dengan petuah dan hikmahnya. Mereka bukan sarjana-sarjana perguruan tinggi, tapi keluasan ilmuannya lebih dari seorang yang meraih gelar profesor doktor sekalipun. Lemari di rumah mereka penuh dengan kitab kuning yang setiap saat mereka muthalaah, kemudian diajarkan. Keikhlasan, kesabaran, kejujuran, ketaatan, dalam beragama itu pulalah yang membuat mereka menjadi ulama yang kharismatis dan disegani, di samping menciptakan persaudaraan yang demikian kental tanpa adanya kelompok kepentingan.

Krisis Kaderisasi

Harus diakui, kita telah mengabaikan kaderisasi ulama. Dibanding begitu banyak madrasah dan pesantren yang didirikan, kita tidak memiliki lembaga khusus yang merupakan laboratorium ulama yang diperlukan. Dulu Ponpes Darussalam menjadi kebanggaan sebagai “wahana” pencetak para ulama, dan guru-guru agama. Akan tetapi belakangan agaknya telah terjadi pergeseran, sejak Darussalam kehilangan ulama-ulama tuanya yang istiqomah dan ikhlas berjuang, kaderisasi ulama pun seakan terabaikan. Akibatnya, Darussalam kehilangan gregetnya, tidak hanya di daerah Martapura, tetapi juga di penjuru Kalimantan.

Kalaupun kemudian banyak putra putri Darussalam yang setelah tamat dari madrasah kemudian melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi baik dalam maupun luar negri, mereka inilah seharusnya pengganti para ulama. Akan tetapi dalam kenyataannya, mereka lebih senang memakai gelar Drs, atau Lc, MA Timur Tengahnya dengan mengikatkan diri dengan biroksasi, dan jarang sekali yang bersedia hidup mandiri di tengah umat.

Hal ini mungkin disebabkan tuntutan hidup yang pragmatis, bukan lagi idealis. Karena tuntutan hidup pragmatis adalah kepentingan, dan kepentingan disini adalah materi (baca: fulus). Atau mungkin juga karena mereka lebih suka disebut “cendikiawan” Muslim, ketimbang ulama, tuan guru, syeikh, kiyai , atau buya. Bahkan, tak jarang pula kita temukan kitab yang penuh berlemari-lemari peninggalan seorang ulama tidak terjamah, karena tidak seorangpun putra/putri beliau yang mampu membaca, apalagi memahami bahasa Arab. Andaikata saja, setiap ulama menargetkan seorang saja dari putra-putranya untuk dipersiapkan sebagai calon ulama, barangkali keadaan tidak seperti sekarang ini. Tapi itulah kenyataannya.

Pertanyaannya kemudian, ke mana lagi kita mencari sosok ulama waratsatul Anbiya kalau kita sekarang sudah pesimis dengan apa yang terjadi di Martapura? “Sesungguhnya Allah akan mencabut ilmu pengetahuan, tidak dengan mencabutnya langsung dari manusia, melainkan dengan mewafatkan ulama. Dan jika tidak tersisa satupun orang alim, maka manusia mengangkat para pemimpinnya yang jahil, yang jika diminta pendapatnya, mereka memberikan fatwa tanpa pengetahuan sehingga mereka sesat menyesatkan”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Turmudzi).

Tulisan ini hanyalah sekadar refleksi memperingati Haul ke-4, Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani, Sekumpul Martapura… “Semoga Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan-Nya kepada beliau dan kepada kita semua”.

Wallahu A’lam

No Comments
Jul 11

MAN 2 Model Banjarmasin, Serangkum Kebanggaan (Selayang Pandang,Peluang dan Harapan)

Published By ikamanda under Tak Berkategori    

Continue Reading »

1 Comments
Advertisements
  • Sponsor Banner
  • Sponsor Banner
  • Sponsor Banner
  • Sponsor Banner
  • Sponsor Banner
  • Sponsor Banner
  •  
    Januari 2012
    M S S R K J S
    « Jul    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Blogroll
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Arsip
    • Juli 2011
    • April 2011
    • Februari 2011
    • Oktober 2010
    • Februari 2010
    • Juli 2009
  • Meta
    • Log in
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.org
  • Tulisan Terakhir
    • Marhaban Ya Ramadhan
    • MANDA : Aku, Kamu, Mimpi dan Metamorfosis Kita
    • Kebangkitan Dunia Pendidikan dengan Islam
    • Supaya Tidak Sembarang Berbicara Masalah Hukum Agama; Anda Tidak Akan Mencapai Derajat Mujtahid Maka Anda Harus Menjadi Muqallid
    • Seminar Sehari Karya Tulis Ilmiah
  • Tag
  • Kategori
    • Pengetahuan Islam
    • Tak Berkategori
  • Komentar Terakhir
    • get backlinks pada Marhaban Ya Ramadhan
    • sisiciordinge pada MANDA : Aku, Kamu, Mimpi dan Metamorfosis Kita
    • ikamanda pada MANDA : Aku, Kamu, Mimpi dan Metamorfosis Kita
    • Ben Strong pada MAN 2 Model Banjarmasin, Serangkum Kebanggaan (Selayang Pandang,Peluang dan Harapan)
    • PugButtappash pada MANDA : Aku, Kamu, Mimpi dan Metamorfosis Kita
  • Selamat Datang Di Blog Ikatan Alumnus MAN 2 Banjarmasin
    • Sekilas MAN 2 Model Banjarmasin
      • Perihal
  • Komentar Terakhir
    • get backlinks
      get backlinks Says: buy backlinks seo guide ...
    • sisiciordinge
      sisiciordinge Says: Hey i just came here to let you know about a servi...
    • ikamanda
      ikamanda Says: how do I do?...
    • Ben Strong
      Ben Strong Says: I just read the exact same article from another si...
    • PugButtappash
      PugButtappash Says: Have you looked at the new online money making sys...
  • Hot Topics
    • MANDA : Aku, Kamu, Mimpi dan Metamorfosis Kita
      4 comments received
    • MAN 2 Model Banjarmasin, Serangkum Kebanggaan (Selayang Pandang,Peluang dan Harapan)
      1 comments received
    • Marhaban Ya Ramadhan
      1 comments received
  • Popular Tags
  • Blogroll
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Meta
    • Log in
    • WordPress
    • XHTML
    • CSS
  • Blogdetik.com
  • Daftar Blog