Refleksi haul ke-4 Guru Sekumpul

 http://taufik79.wordpress.com)

Benarkah, Martapura Krisis Ulama? (Refleksi Haul ke-4 Guru Sekumpul)

Abah GURU2

Sosok ulama waratsatul ‘anbiya satu persatu meninggalkan dunia fana ini, sementara generasi penerusnya (dalam kualitas sama) sulit didapat sekarang, bahkan hampir terbilang langka. Kepergian ulama meninggalkan dunia ini adalah salah satu tanda-tanda akhir zaman. Maka semakin “gelaplah dunia” ini karena ketiadaan ulama yang selama ini sebagai ‘pelita’ dunia.

Empat tahun lalu, Rabu 10 Agustus 2005, bertepatan 5 Rajab 1424 H, seorang ulama besar yang punya kualitas sosok warasatul ‘ambiya (pewaris nabi) telah dipanggil Sang Khaliq, dia Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab kita panggil Guru Sekumpul, seorang ulama besar terkenal di Kalimantan.

Martapura berduka pada saat itu, betapa tidak seorang putra terbaiknya yang selama ini menjadi panutan, rujukan bahkan “idola” umat telah berpulang ke rahmatullah, menghadap Ilahi Rabbi. Di tengah krisis dan tanda tanya siapa gerangan “pewaris” Guru Sekumpul, rasa prihatin dan duka tak dapat disembunyikan, bahkan hingga kini.

Demikian juga kira-kira gambaran situasi keresahan umat Islam di Kalsel khususnya di Martapura sekarang ini, dilihat dari kacamata keprihatinan akan semakin langkanya sosok ulama panutan warga banua.

Persoalan mendasar yang mungkin inheren dengan krisis ulama dewasa ini, karena beban dan tugas mereka yang begitu berat dalam mengayomi umat untuk tidak terpecah-belah. Pada dasarnya ulama memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, hal ini karena ketokohannya di bidang ilmu agama dan merupakan panutan masyarakat.

Sebagai panutan, mereka mempunyai kharisma. Sampai sekarang, masyarakat umumnya masih menerima dan menghayati pengertian ulama sebagai ketokohan yang khas. Masyarakat belum menerima seorang ekonom disebut ulama, atau seorang dokter dikatakan ulama kendati mereka paham ilmu keagamaan dan mampu membaca dan menelaah kitab kuning, misalnya. Fanatisme kepada ulama disebabkan kefanatikan orang terhadap pengetahuan agama sang ulama, penghayatan dan sekaligus pengamalannya terhadap nilai-nilai agama tersebut. Karena itu, tidak semua yang mengerti Islam dapat sekaligus disebut ulama.

Ketaatan atau kesetiaan kepada ulama, bukan sesuatu yang direncanakan dan dibuat-buat, tapi ia tumbuh dengan sendirinya. Karenanya, bila seorang yang tahu sepotong dua potong ayat dan hadits kemudian dikhutbahkan atau diceramahkan, orang tersebut belum masuk ”kelas ulama”. Karena muballigh atau da’i bukan ulama, tapi setiap ulama sudah pasti muballigh atau da’i. Dalam Islam tidak berlaku sistem kerahiban. Lalu siapa yang bertanggung jawab terhadap agama (Islam)? Karena tidak berlakunya sistem rahbaniat itu. Sudah pasti setiap individu muslim berhak menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, dalam batas kemampuan dan pengetahuannya tentang agama itu.

Akan tetapi setiap yang ber-amar ma’ruf dan nahi munkar tersebut belum tentu ulama, karena ulama seperti diurai di atas, juga memiliki ciri khas yang lain, yaitu “kaum sarungan” dengan syal melekat pada pundaknya, serta peci putih atau sorban yang tak pernah lepas dari kepalanya. Di samping ciri khas lainnya adalah, murah senyum, ramah, bersahaja, satu dua kata yang dikeluarkannya mengandung doa. Materi atau honor mengajar bukan persoalan bagi mereka. Diberi atau tidak, banyak atau sedikit ”amplop” yang diberikan juga bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Bagi sang ulama menyampaikan dan mengajar sebagai upaya pencerahan umat adalah sebagai bentuk tanggung jawab.

Teringat akan hal inilah kemudian penulis meneteskan air mata ketika melayat ke kubah makam Guru Sekumpul (dengan doa kiranya Allah melapangkan kuburnya). Semasa hidup, beliau ikhlas mengajar ummat di komplek Langgar Ar Raudhah, Sekumpul. Ceramah agama yang beliau sampaikan mampu menyejukkan kalbu, tak hanya bagi mereka yang tergolong dewasa maupun orang tua, tapi juga bagi kalangan kawula muda. Sekali kita mendengar petuah dan pesan-pesan agama yang penuh berisi dan disampaikan secara persuasif itu, membuat hati siapa pun jadi rindu untuk datang lagi pada kegiatan pengajian beliau. Kini ulama kharismatik itu telah tiada, tapi sosok dan figur kepribadian beliau tak akan pernah hilang dari ingatan kita.

Ulama Beralih Profesi

Dalam telaah sejarah bangsa kita, pada kurun waktu terakhir, banyak ulama kita yang “beralih profesi”. Mereka berbondong-bondong meninggalkan pesantren untuk menjadi anggota dewan. Betapapun hal ini bisa dinilai sebagai memisahkan ikan dari air, kenyataannya kebanyakan ulama kita tidak bisa berperan dengan baik dalam lembaga perwakilan itu. Karena lapangan politik pada dasarnya bukan dunia mereka, bahkan tidak sedikit kemudian ulama yang terseret ke dalam pusaran arus yang demikian kuat, sehingga keulamaan mereka lenyap. Sementara itu pesantren dan ummat menjadi lemah justru setelah ditinggalkan oleh ruh dan jiwa para ulama.

Dulu, Martapura sangat dikagumi, dicintai dan digandrungi, tidak hanya oleh bubuhan pelajar, mahasiswa dan kaum mudanya yang militan, tapi juga muslimat (kaum ibu) demikian antusias setiap kali diucapkan kata Martapura. Hal ini disebabkan para ulamanya yang kharismatik yang memberikan pencerahan keagamaan kepada masyarakat dengan petuah dan hikmahnya. Mereka bukan sarjana-sarjana perguruan tinggi, tapi keluasan ilmuannya lebih dari seorang yang meraih gelar profesor doktor sekalipun. Lemari di rumah mereka penuh dengan kitab kuning yang setiap saat mereka muthalaah, kemudian diajarkan. Keikhlasan, kesabaran, kejujuran, ketaatan, dalam beragama itu pulalah yang membuat mereka menjadi ulama yang kharismatis dan disegani, di samping menciptakan persaudaraan yang demikian kental tanpa adanya kelompok kepentingan.

Krisis Kaderisasi

Harus diakui, kita telah mengabaikan kaderisasi ulama. Dibanding begitu banyak madrasah dan pesantren yang didirikan, kita tidak memiliki lembaga khusus yang merupakan laboratorium ulama yang diperlukan. Dulu Ponpes Darussalam menjadi kebanggaan sebagai “wahana” pencetak para ulama, dan guru-guru agama. Akan tetapi belakangan agaknya telah terjadi pergeseran, sejak Darussalam kehilangan ulama-ulama tuanya yang istiqomah dan ikhlas berjuang, kaderisasi ulama pun seakan terabaikan. Akibatnya, Darussalam kehilangan gregetnya, tidak hanya di daerah Martapura, tetapi juga di penjuru Kalimantan.

Kalaupun kemudian banyak putra putri Darussalam yang setelah tamat dari madrasah kemudian melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi baik dalam maupun luar negri, mereka inilah seharusnya pengganti para ulama. Akan tetapi dalam kenyataannya, mereka lebih senang memakai gelar Drs, atau Lc, MA Timur Tengahnya dengan mengikatkan diri dengan biroksasi, dan jarang sekali yang bersedia hidup mandiri di tengah umat.

Hal ini mungkin disebabkan tuntutan hidup yang pragmatis, bukan lagi idealis. Karena tuntutan hidup pragmatis adalah kepentingan, dan kepentingan disini adalah materi (baca: fulus). Atau mungkin juga karena mereka lebih suka disebut “cendikiawan” Muslim, ketimbang ulama, tuan guru, syeikh, kiyai , atau buya. Bahkan, tak jarang pula kita temukan kitab yang penuh berlemari-lemari peninggalan seorang ulama tidak terjamah, karena tidak seorangpun putra/putri beliau yang mampu membaca, apalagi memahami bahasa Arab. Andaikata saja, setiap ulama menargetkan seorang saja dari putra-putranya untuk dipersiapkan sebagai calon ulama, barangkali keadaan tidak seperti sekarang ini. Tapi itulah kenyataannya.

Pertanyaannya kemudian, ke mana lagi kita mencari sosok ulama waratsatul Anbiya kalau kita sekarang sudah pesimis dengan apa yang terjadi di Martapura? “Sesungguhnya Allah akan mencabut ilmu pengetahuan, tidak dengan mencabutnya langsung dari manusia, melainkan dengan mewafatkan ulama. Dan jika tidak tersisa satupun orang alim, maka manusia mengangkat para pemimpinnya yang jahil, yang jika diminta pendapatnya, mereka memberikan fatwa tanpa pengetahuan sehingga mereka sesat menyesatkan”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Turmudzi).

Tulisan ini hanyalah sekadar refleksi memperingati Haul ke-4, Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani, Sekumpul Martapura… “Semoga Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat, kasih sayang, dan ampunan-Nya kepada beliau dan kepada kita semua”.

Wallahu A’lam

Leave a Reply

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda